by

Gurihnya Kue Sagu Seharga Rp1.000

screen-09-18-2129-10-2016BERWISATAke perbatasan RI-Timor Leste di Atambua, NTT, kurang lengkap rasanya jika tidak mampir ke pasar setempat.

Kami pun menyempatkan diri datang ke Pasar Baru Atambua yang buka dari subuh sampai pukul 20.00. Tidak hanya warga lokal, warga Timor Leste juga kerap berbelanja di pasar ini. Mengingat Timor Leste sampai saat ini masih memakai mata uang dolar Amerika Serikat, beberapa toko di Pasar Baru Atambua juga melayani penukaran uang dolar ke rupiah.

Sejauh pengamatan kami, pasar ini cukup komplet menjual berbagai macam barang, mulai bahan makanan sampai kain tenun NTT. Di banyak tempat sampai emperan toko dijumpai mamak-mamak yang lesehan berjualan sirih dan pinang. Tidak sedikit juga perempuan dan anak-anak yang mondar-mandir membawa dan menawarkan dagangannya.

Jauh-jauh ke Atambua, tentu kami tidak melewatkan untuk membeli sesuatu yang khas, salah satunya kue sagu. Kami mendapati dua penjual kue sagu di pasar ini, salah satunya Ibu Bui. “Ini berapa harganya, Bu,” tanya saya sembari menunjuk kue sagu yang baru diangkat dari tungkunya. “Satu seribu (Rp1.000 per buah),” jawabnya. Bahan untuk membuat kue sagu sangat sederhana, hanya tepung sagu dicampur parutan kelapa dan garam, lalu diaduk. Selanjutnya, sagu dipanggang di tungku, persis seperti tungku kue serabi.

Sepotong kue sagu kami nikmati selagi hangat, enak dan gurih. Tidak cukup satu, kami pun membeli lagi masing-masing 10 buah. Selain kue sagu, di Pasar Baru Atambua, kami juga membeli jagung bose untuk dimasak menjadi bubur di rumah. Malam sebelumnya di Festival Crossborder Atambua 2016 di Alunalun Kota Atambua, kami sempat menikmati bubur jagung bose di salah satu stan bazar milik Mak Onah Mattutinah. Satu mangkuk bubur bose dicampur kacang hitam plus kondimen ikan teri dan tumis bunga pepaya cuma Rp10.000.

Kuliner buatan Mak Onah yang tidak kalah lezat adalah susu kerbau yang dimasak sampai menggumpal seperti galendonya orang Sunda. “Makannya bisa dengan sagu atau roti, seperti selai jadinya,” kata Mak Onah yang setiap hari berjualan di lapaknya yang dikenal dengan nama Pojok Lokal Mak Onah, tidak jauh dari Alun-alun Kota Atambua. Atambua di Kabupaten Belu, NTT, merupakan kota kedua terbesar setelah Kupang. Keberadaan Bandara AA Bere Talo di kota ini memudahkan akses kunjungan wisatawan ke Belu dan kabupaten sekitarnya.

Seiring meningkatnya arus wisatawan, Bupati Belu Willy Lay mengatakan, pemerintah daerah pada akhir tahun ini akan membangun pusat kuliner di salah satu pantai terindah tidak jauh dari Kota Atambua. Saat ini beberapa daya tarik wisata alam di Atambua di antaranya Pantai Pasir Putih, Kolam Susuk, Teluk Gurita, dan Fulan Fehan.

Inda susanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *