by

Bahayanya bagi Astronot apabila Pernah Keluar dari Orbit Bumi

Di Luar angkasa itu menyeramkan ya, tidak ada udara, hening sekali, dan gelap, semua serba hitam, sepertinya lebih baik kita tinggal di bumi saja.

Walau terdengar menantang, jadi penjelajah luar angkasa tidaklah pekerjaan yang gampang. Diperlukan kesiapan fisik serta mental yang mengagumkan saat ada di angkasa luar, terlebih bila sembari menggerakkan satu misi.

sumber foto: www.vemale .com
sumber foto: www.vemale .com

Tetapi nyatanya tantangannya tidak cuma itu. Satu riset membuka, astronot yang ditugaskan jauh dari orbit Bumi berpeluang semakin besar untuk alami masalah jantung daripada mereka yang misinya tak jauh-jauh dari Bumi.

Rangkuman ini didapat sesudah memperbandingkan keadaan dua grup astronot ; 42 astronot yang pernah ditugaskan untuk melakukan misi luar angkasa serta 35 astronot yang belum pernah ditugaskan ke manapun.

Diantara 42 partisipan yang pernah di kirim ke luar angkasa, tujuh salah satunya ambillah sisi dalam misi Apollo. Misi Apollo sendiri di kenal sebagai ‘misi deep space’ dimana astronot di kirim sampai ke luar orbit Bumi.

Dengan cara mengagetkan, 43 % astronot yang pernah melakukan misi keluar orbit Bumi dilaporkan wafat akibat penyakit jantung. Apabila dibanding dengan mereka yang cuma di kirim dalam satu misi ‘low orbit’ atau tidak jauh-jauh dari orbit Bumi serta wafat lantaran penyakit jantung, jumlahnya cuma 11 % serta 9 % untuk astronot yang belum pernah ke luar angkasa.

Lalu bagaimana hal semacam ini dapat berlangsung? Seperti dilaporkan Livescience, menurut peneliti, pemicunya yaitu lantaran diluar orbit Bumi ada bebrapa cahaya kosmik yang datang dari semua penjuru galaksi serta punya potensi mengakibatkan kerusakan jaringan badan manusia apabila teradiasi atau terkena.

Terlebih saat si astronot ditugaskan ke luar dari orbit Bumi, mereka tak akan memperoleh perlindungan dari atmosfer, hingga mereka lebih rawan terkena radiasi tingkat tinggi. Berikut yang lalu menyebabkan penyakit jantung pada astronot.

Sebagai sisi dari studi, peneliti juga bereksperimen pada tikus untuk lihat seberapa besar efek radiasi pada pembuluh darah makhluk hidup. Dalam percobaan itu, si tikus cuma dipapari radiasi yang sama juga dengan yang diperoleh astronot sebentar saja.

Akhirnya tunjukkan, enam bln. lalu (setara dengan 20 th. rentang hidup manusia), paparan radiasi tadi dapat dibuktikan bisa mengakibatkan kerusakan pembuluh darah tikus.

” Rusaknya pembuluh darah dapat menyebabkan keadaan yang namanya atherosclerosis. Apabila ini berlangsung, kemungkinan besar seorang alami serangan jantung maupun stroke, ” ungkap satu diantara peneliti, Michael Delp dari College of Human Science, Florida State University.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *